Rabu, 28 Februari 2018

Uji Kandungan Gula dan Protein dalam Urine

Kelompok 3:
  • Arfinnisa Irbatin Zulfa/04
  • Hayyu Arini Putri/10
  • Rafif Putra Dewa/18
  • Wikan Lanang Ardiaksa Wibowo/24

Uji Kandungan Gula dan Protein dalam Urine


Alat dan bahan :

  1. Tabung reaksi (satu tabung per sampel uji)
  2. Rak tabung reaksi
  3. Pipet tetes
  4. Kertas label
  5. Kaki Tiga 
  6. Urine
  7. Penjepit tabung reaksi
  8. Termometer
  9. Gelas kimia
  10. Air panas
  11. Pembakar spiritus












A. Uji Urin yang Mengandung Gula
Reagen Benedict digunakan untuk menguji bahan makanan yang mengandung. Reagen ini berwarna biru jernih. Setelah sampel yang diuji ditetesi reagen Benedict, maka akan terjadi perubahan warna. Apabila sampel berubah warna menjadi biru kehijauan atau kuning atau merah bata berarti bahan makanan tersebut mengandung gula. Perubahan warnanya bergantung pada kadar gula dalam sampel.

LANGKAH KERJA:
  1. Masukkan 40 tetes (2 mL) sampel urin ke dalam tabung reaksi, beri label setiap sampel 
  2. Tambahkan 10 tetes larutan Benedict pada masing-masing tabung reaksi. 
  3. Panaskan tabung reaksi dalam beker gelas yang berisi air bersuhu 40-50°C selama lima menit. 
  4. Berhati-hatilah ketika menggunakan api. Pada waktu mematikan pembakar spiritus jangan ditiup, tapi dilakukan dengan menutupkan spirtus dengan penutupnya.










B. Uji Urin yang Mengandung Protein
Reagen biuret digunakan untuk mengetahui adanya kandungan protein pada bahan makanan. Reagen biuret adalah larutan berwarna biru yang ketika bereaksi dengan protein akan berubah warna menjadi merah muda sampai ungu. 

LANGKAH KERJA:
  1. Masukkan 40 tetes (2 mL) sampel urin ke dalam tabung reaksi, beri label setiap sampel. 
  2. Tambahkan 3 tetes reagen biuret untuk masing-masing tabung. Kocok perlahan-lahan untuk  mencampur. 
  3. Perhatikan perubahan warna yang terjadi!


DATA HASIL PENGAMATAN

Sampel Urine dari Siswa
Warna yang Terbentuk Saat Uji Glukosa
Warna yang Terbentuk Saat Uji Protein
Arfinnisa Irbatin Zulfa (04)
Kuning
Kuning
Hayyu Arini Putri (10)
Kuning
Kuning
Rafif Putra Dewa (18)
Biru
Kuning
Wikan Lanang A. W (24)
Kuning
Kuning


HASIL DISKUSI

  1. Kandungan yang ada pada urine manusia antara lain air, garam, urea, obat-obatan, gula, asam klorida, asam urat, asam sulfat, empedu, amonia, sodium, potasium, nitrogen, fosfor, dan kreatinin. 
  2. Kelainan yang mungkin terjadi jika urine mengandung gula adalah glukosuria, penyakit ini sering disebut kencing manis atau diabetes mellitus. 
  3. Kelainan yang mungkin terjadi jika urine mengandung protein adalah kelainan pada glomerulus dan kapsula bowman, dan dapat menyebabkan seseorang menderita albuminuria
  4. Yang dapat dilakukan untuk menjaga ginjal tetap sehat antara lain :
    • Mengatur pola makan
    • Aktif bergerak
    • Jaga berat badan
    • Jauhi alkohol dan hindari rokok
    • Kontrol tekanan darah
    • Minumlah air putih
    • Hindari stres
    • Rajin berolahraga
    • Menghindari beberapa obat antibiotic dan anti nyeri

KESIMPULAN
Praktikum uji kandungan gula pada urine menggunakan benedict, jika urine berubah warna menjadi biru kehijauan atau kuning, berarti urine tersebut mengandung sedikit gula, namun jika urine berubah warna menjadi merah bata, maka urine tersebut mengandung gula.
Praktikum uji kandungan protein pada urine menggunakan biuret, jika urine berubah warna menjadi ungu, maka ada protein yang lolos.


Minggu, 25 Februari 2018

Model Penyaringan Darah dalam Ginjal

Kelompok 3 SMP N 1 WONOSARI

  1. Arfinnisa Irbatin Zulfa/04
  2. Hayyu Arini Putri/10
  3. Rafif Putra Dewa/18
  4. Wikan Lanang Ardiaksa Wibowo/24

Model Penyaringan Darah dalam Ginjal

alat dan bahan:
1. gelas kimia 2 buah
2. corong
3. kertas saringan
4. tepung terigu
5. air
6. Pewarna makanan


 




cara kerja:
1. Sediakan air 500 ml lalu campurkan 5 tetes pewarna makanan kedalam gelas kimia dan 1 sendok terigu
 

2. Susunlah alat seperti pada bagan berikut ini. 

















3. Tuangkan secara hati-hati sebagian larutan yang telah dibuat, di atas kertas saring.


4. Amatilah larutan yang terbentuk, bandingkan dengan larutan yang belum disaring, apa yang membedakan ?

  1. Perbedaan air dari larutan hasil penyaringan dan bahan awal sebelum disaring adalah air sebelum disaring lebih pekat dan kental.
  2. Yang menyebabkan berbeda adalah kertas saring.
  3. Bila rangkaian percobaan diumpmakan sebagai badan malpighi, maka:
    • Corong dan kertas saring diumpamakan sebagai badan malpighi. Corong sebagai kapsula bowman dan kertas saring sebagai Glomerulus 
    • Gelas kimia diumpamakan sebagai kapsula bowmen yang berfungsi menyimpan filtrat sementara

KESIMPULAN
Darah yang masuk ke Glomerulus, tekanannya menjadi tinggi sehingga mendorong air dan zat yang memiliki ukuran kecil keluar melalui pori kapiler, dan menghasilkan filtrat. Filtrat selanjutnya disimpan semetara didalam Kapsula Bowman.







Inilah vidionya :D

Rabu, 21 Februari 2018

Dampak zat sisa dalam tubuh tidak dikeluarkan

Zat sisa metabolisme merupakan zat yang harus segera dikeluarkan dari tubuh. Sesuai dengan namanya, zat ini merupakan sisa sehingga pastinya sudah tidak berguna dan tidak memberikan manfaat untuk tubuh. Sisa metabolisme berarti merupakan zat yang memang tidak baik untuk tubuh dan sengaja dibuang. Maka dari itu zat sisa metabolisme harus segera dibuang. Jika tidak bisa berubah menjadi racun untuk tubuh. Zat sisa metabolisme juga biasanya akan mengalami pembusukan dan menimbulkan gas dalam tubuh.Bisa dalam bentuk buang air kecil atau berkeringat. Maka dari itu biasanya orang sakit akan berkeringat setelah minum obat. Karena zat sisa yang tidak dibutuhkan telah dikeluarkan melalui keringat. Zat sisa metabolisme ini harus dikeluarkan dari tubuh karena sudah tidak memiliki manfaat pada proses yang terjadi di dalam tubuh, seperti H2O, CO2, NH3, asam urat,dan zat warna empedu. Hal ini dikarenakan apabila zat tersebut masih berada di dalam tubuh, maka akan menimbulkan racun yang akhirnya berdampak pada munculnya kelainan atau penyakit pada tubuh manusia.

  1. H2O yang berlebihan dalam tubuh juga dapat menyebabkan kelainan pada sistem pernapasan.
  2. CO2 atau karbondioksida adalah zat sisa dari pembakaran makanan yang mengandung karbohidrat, protein, dan lemak. Karbondioksida yang berlebih dalam tubuh akan menyebabkan kelainan dalam sistem pernapasan.
  3. NH3 atau amonia adalah sisa hasil pembongkaran makanan yang mengandung protein. Kelebihan zat ini akan menyebabkan racun bagi sel-sel dalam tubuh.
  4. Asam urat adalah zat sisayang mengandung nitrogen, dimana zat ini juga dapat memberikan racun bagi tubuh, walau kadar racun dalam zat ini lebih rendah jika dibandingkan amonia.
  5. Zat warna empedu adalah sisa pembongkaran sel darah merah yang dilakukan oleh hati kemudian disimpan dalam kantung empedu dalam tubuh. Kelebihan zat ini dalam tubuh juga dapat memberikan racun bagi sel-sel tubuh.

Struktur dan Fungsi Sistem Ekskresi

Tubuh memiliki mekanisme untuk membuang sampah-sampah yang tidak dibutuhkan. Sistem ini berfungsi untuk mengeluarkan zat sisa dalam tubuh. Pembuangan zat sisa dari dalam tubuh ditunjukkan pada berbagai proses, yaitu pengeluaran keringat, pengeluaran urin, pengeluaran gas CO2 dan H2O, serta pengeluaran urea dan cairan empedu. Ternyata, jika tubuh tidak mengeluarkan zat sisa akan bersifat meracuni tubuh sehingga akan merusak berbagai organ dalam tubuh bahkan dapat berujung pada kematian.
Berikut ini ada peta konsep dari bab yang akan kita pelajari :

peta konsep ekskresi

Gangguan pada Alat Ekskresi Manusia     

1. Gagal Ginjal – Gagal ginjal merupakan gangguan ginjal berat.  Jika ginjal sudah terserang, akibatnya ekskresi pada tubuh manusia mengalami gangguan. Ginjal pada penyakit gagal ginjal itu sudah tidak dapat berfungsi dengan baik atau malah sudah rusak. Ginjal yang sudah gagal dalam menjalankan fungsinya akan membuat ekskresi pada manusia terganggu sehingga di dalam tubuh manusia terdapat penumpukan cairan. Pengobatan gagal ginjal berupa cuci darah dan juga CAPD bisa berguna untuk menggantikan fungsi ginjal yang telah gagal tersebut, namun pengobatan itu harus dilakukan seumur hidup.
2. Alergi – Penyakit alergi merupakan gangguan pada kulit yang disebabkan karena iritasi oleh makanan, minuman dan lain sebagainya. Biasanya penyebab alergi tersebut termakan atau tersentuh dengan kulit
3. Asma – Asma merupakan gangguan pernafasan yang dilakukan paru-paru akibat adanya alergi oleh benda asing yang masuk ke dalam hidung.
4. Hepatitis – Hepatitis merupakan penyakit yang berbahaya sebab jika terlambat diatasi bisa menyebabkan kanker hati. Hepatitis ditandai dengan peradangan pada hati dan juga pembengkakan hati.

Mengapa Zat Sisa Dalam Tubuh Harus Dikeluarkan?

Zat sisa metabolisme merupakan zat buangan atau hasil pembongkaran atas zat-zat makanan yang terdapat dalam tubuh makhluk hidup, yang berupa molekul-molekul kompleks. Zat sisa metabolisme harus dikeluarkan dari tubuh melalui proses eksreksi karena sudah tidak memiliki manfaat pada proses yang terjadi di dalam tubuh, seperti H2O, CO2, NH3, asam urat,dan zat warna empedu. Jika zat tersebut masih berada di dalam tubuh, maka akan menimbulkan racun yang menyebabkan munculnya kelainan atau penyakit pada tubuh manusia. Zat sisa metabolisme juga biasanya akan mengalami pembusukan dan menimbulkan gas dalam tubuh. Zat sisa metabolisme dapat dikeluarkan antara lain dalam bentuk buang air kecil, berkeringat, atau menghembuskan udara. Maka dari itu biasanya orang sakit akan berkeringat setelah minum obat, karena zat sisa yang tidak dibutuhkan telah dikeluarkan melalui keringat.  Sehingga dengan membuang zat sisa kita sama saja menjaga keseimbangan tubuh diri kita sendiri.

Berikut sebagian kecil kelainan yang ditimbulkan jika tidak melakukan ekskresi :
  1. H2O yang berlebihan dalam tubuh juga dapat menyebabkan kelainan pada sistem pernapasan.
  2. CO2 atau karbondioksida adalah zat sisa dari pembakaran makanan yang mengandung karbohidrat, protein, dan lemak. Karbondioksida yang berlebih dalam tubuh akan menyebabkan kelainan dalam sistem pernapasan.
  3. NH3 atau amonia adalah sisa hasil pembongkaran makanan yang mengandung protein. Kelebihan zat ini akan menyebabkan racun bagi sel-sel dalam tubuh.
  4. Asam urat adalah zat sisayang mengandung nitrogen, dimana zat ini juga dapat memberikan racun bagi tubuh, walau kadar racun dalam zat ini lebih rendah jika dibandingkan amonia.
  5. Zat warna empedu adalah sisa pembongkaran sel darah merah yang dilakukan oleh hati kemudian disimpan dalam kantung empedu dalam tubuh. Kelebihan zat ini dalam tubuh juga dapat memberikan racun bagi sel-sel tubuh.
Berikut merupakan kelainan yang lebih spesifik pada sistem ekskresi :


1. Anuria
Anuria adalah kegagalan ginjal menghasilkan urin. Anuria bisa disebabkan oleh kurangnya tekanan untuk melakukan filtrasi atau radang glomerulus, sehingga plasma darah tidak bisa masuk ke dalam glomerulus. Kurangnya tekanan hidrostatis bisa disebabkan oleh penyempitan (konstriksi) arteriol efferen oleh hormon epinefrin atau oleh pendarahan sehingga darah tidak dialirkan ke ginjal.
2. Glikosuria
Glikosuria adalah ditemukannya glukosa pada urin. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi kerusakan pada badan malphigi.
3. Albuminaria
Albuminaria adalah ditemukannya protein albumin dalam urin. Keberadaan albumin yang berlebihan dalam urin menunjukkan adanya kenaikan permeabilitas membran glomerulus. Albuminaria disebabkan karena luka pada membran glomerulus sebagai akibat penyakit, kenaikan tekanan darah, dan iritasi sel-sel ginjal oleh zat-zat, misalnya racun, bakteri, eter, atau logam berat.
4. Hematuria
Keberadaan sel-sel darah merah di dalam urin disebut hematuria. Penyebab hematuria adalah radang organ-organ sistem urin karena penyakit atau iritasi oleh batu ginjal. Jika darah ditemukan di dalam urin, kondisi ini menunjukkan adanya bagian saluran urin yang mengalami pendarahan.
5. Bilirubinaria
Konsentrasi bilirubin dalam urin di atas normal disebut bilirubinaria. Bilirubinaria menunjukkan adanya penguraian hemoglobin dalam darah merah yang berlebihan atau adanya ketidakfungsian hati atau kerusakan empedu.
6. Batu Ginjal
Batu ginjal merupakan benda keras yang sering ditemukan di dalam saluran ginjal, pelvis ginjal, maupun saluran urin. Batu ini umumnya berdiameter 2-3 mm dengan permukaan kasar atau halus. Kadang-kadang bisa ditemukan batu ginjal bercabang yang besar. Penyusun utama batu ginjal adalah kristal-kristal asam urat, kalsium oksalat, dan kalsium fosfat ditambah dengan kristal-kristal garam, magnesium fosfat, asam urat atau sistin, dan mukoprotein. Terbentuknya batu ginjal bisa disebabkan oleh konsentrasi garam-garam mineral yang berlebihan, penurunan jumlah air, kebasaan, dan akeasamaan urin yang abnormal, atau aktivitas kelenjar paratiroid yang berlebihan. Keberadaan batu ginjal bisa menyumbat ureter, menimbulkan tukak, dan meningkatkan kemungkinan infeksi bakteri.
7. Nefritis Glomerulus
Nefritis glomerulus merupakan radang ginjal yang melibatkan glomerulus. Salah satu penyebab paling umum adalah reaksi alergi terhadap racun yang dilepaskan oleh bakteri Streptococcus yang telah menginfeksi bagian tubuh lain, khususnya tenggorokan. Glomerulonefritis memungkinkan sel-sel darah merah dan protein memasuki filtrat sehingga urin mengandung banyak eritrosit dan protein. Glomerulonefritis yang parah bisa menyebaban gagal ginjal.
8. Pielonefritis
Pielonefritis merupakan radang pelvis ginjal, medula, dan korteks oleh infeksi bakteri. Infeksi ini biasanya berawal dari pelvis ginjal kemudian melebar ke dalam ginjal. Piolonefritis bisa menyebabkan kerusakan nefron dan korpuskulum renalis.
9. Kistitis
Kistitis adalah radang kantung kemih yang melibatkan lapisan mukosa dan submukosa. kistitis bisa disebabkan oleh infeksi bakteri, zat-zat kimia, atau luka mekanis.
10. Nefrosis
Nefrosis merupakan kondisi bocornya membran glomerulus. Kebocoran ini memungkinkan sejumlah besar protein berpindah dari darah menuju urin sehingga air dan natrium menumpuk dalam tubuh menghasilkan pembengkakan (oedem), khususnya di sekitar lutut, kaki, abdomen, dan mata. Nefrosis lebih umum terjadi pada anak-anak, namun bisa terjadi pada semua usia. Meskipun tidak selalu menyembuhkan, hormon steroid sintetis tertentu, seperti cortison dan prednison, yang mirip hormon yang disekresi kelenjar adrenal, dapat menekan terjadinya nefrosis.
11. Polisistik
Polisistik bisa disebabkan oleh kerusakan saluran ginjal yang merusak nefron dan mengkasilkan kista mirip dilatasi sepanjang saluran. Kelainan ginjal ini umumnya dirurunkan. Dalam jaringan ginjal muncul kista, lubang kecil, dan gelembung-gelembung berisi cairan. Kista ini perlahan-lahan bertambah besar hingga menekan keluar jaringan normal. Gagal ginjal sebagai akibat penyakit pilisistik biasanya terjadi pada usia 40 tahun ke atas. Perkembangan polisistik dapat diperlambat dengan diet, obat, dan pemasukan cairan.
12. Gagal Ginjal
Gagal ginjal dihasilkan dari kondisi yang mengganggu fungsi ginjal, yatu nefritis ginjal parah, trauma ginjal, atau tidak adanya jaringan ginjal karena tumor. Kondisi tersebut menyebabkan kerusakan pada semua nefron sehingga tidak berfungsi. Gagal ginjal yang parah menyebabkan penumpukan urea dalam darah. Gagal ginjal total bisa menyebabkan kematian dalam waktu 1-2 minggu.
13. Albino (bule)

Albino terjadi karena tidak adanya pigmen melanin pada lapisan granulosum.

Hasil gambar untuk struktur ekskresi


Hasil gambar untuk struktur ekskresi




Kelompok 3

  1. Arfinnisa Irbatin Zulfa/04
  2. Hayyu Arini Putri/10
  3. Rafif Putra Dewa/18
  4. Wikan Lanang Ardiaksa Wibowo/24